TRANSINDONESIA.CO – Dunia pendidikan kembali dihebohkan dengan salah satu rencana program Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai durasi jam belajar siswa selama di lingkungan sekolah atau yang santer dikenal dengan nama Full Day School (FDS), artinya sekolah sepanjang hari penuh atau bisa disebut dengan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilaksanakan mulai pukul 06:45-15:00 waktu setempat.
Menurut Mendikbud, Muhadjir Effendy, istilah ini sebenarnya kurang pas karena menyesatkan. Muhajir menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sebenarnya merupakan penambahan kegiatan “co ekstrakurikuler”di sekolah berupa penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPPK) serta menghapuskan sistem Lembar Kerja Siswa (LKS) dimaksudkan agar siswa dapat menikmati waktu lebih banyak bersama keluarga.
Program ini menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat khususnya para orang tua siswa, praktisi pendidikan serta pemerhati dunia sekolah.

Beberapa alasan yang mendudukung maupun mengiginkan peninjauan kembali atas program tersebut, seperti ketersediaan sarana dan prasarana di lingkungan sekolah, dukungan sumber daya manusia para pendidik, kemampuan siswa menerima pelajaran sampai 8 jam sehari, keamanan siswa disaat pulang sekolah, sampai pada urusan makan dan minum siswa selama berada di dalam lingkungan sekolah selama 5 hari dalam seminggu.
Disamping munculnya kecemasan bagi para orang tua siswa mengenai waktu belajar di sekolah, hal ini juga sangat ditentukan oleh kemampuan bagi seorang guru dalam mengisi waktu serta memberikan materi tambahan berupa alat peraga, hiburan sehingga siswa tidak merasa bosan selama seharian penuh berada di sekolah.
Setelah memperhatikan gagasan maupun ide tersebut, maka setidaknya perlu pengkajian lebih mendalam lagi atas hal tersebut, karena situasi dan kondisi sekolah yang ada tidak begitu seragam, baik fasilitas/sarpras, SDM, tingkat kemampuan siswa, jarak tempuh siswa, maupun tingkat kamampuan emosional peserta didik.
Disamping beberapa alasan tersebut di atas, yang perlu diperhatikan adalah selama ini sejak Indonesia merdeka sudah ada sebanyak 11 kali perubahan yang mengatur tentang pengelolaan dunia pendidikan ini, serta hal lain yang dipikirkan adalah sejauh mana pentingnya perubahan jam belajar di sekolah ini dengan permasalahan mendasar lainnya yamg dialami oleh dunia pendidikan seperti tingkat pemerataan pendidikan, kesempatan mendapatkan pendidikan sampai pada biaya pendidikan yang belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh keseluruhan lapisan masyarakat.
Dunia pendidikan perupakan hal yang sangat penting dalam menentukan kamajuan suatu bangsa, serta berdampak pada stabilitas keamanan nasional.
Penulis [La Mimi_633,Widyaiswara Nasional, Pengamat Kamnas]