Passion Pemolisian: Membangun Masyarakat Sadar Wisata Dalam Rangka Merawat Kebhinekaan
TRANSINDONESIA.CO – Tulisan ini berupaya untuk menunjukkan passion pemolisian1 dengan pendekatan transformasi budaya untuk semakin manusiawi dengan membangun masyarakat sadar wisatamerupakan bagian dari upaya merawat Kebhinekaan di Indonesia.
Tanpa sadar para petugas Polisi dalam melaksanakan pemolisiannya kehilangan passion-nya, bekerja asal bekerja, sebatas memenuhi perintah, sebatas merespon aduan atau laporan. Upaya-upaya untuk mencerdaskan bangsa seringkali atau bahkan sama sekali terabaikan.
Passion dalam pemolisian dapat juga dikaitkan dengan keutamaan bagi kepolisian baik sebagai institusi, sebagai fungsi maupun sebagai petugas yaitu untuk memanusiakan manusia, untuk mengangkat harkat dan martabat manusia.

Kebudayaan dapat dilihat sebagai blueprint atau pedoman bagi kehidupan dari sesuatu masyarakat yang menjadi pemilik kebudayaan tersebut. Dalam perspektif ini kebudayaan terdiri atas perangkat-perangkat sistem-sistem acuan atau model-model kognitif yang berlaku pada beranekaragam tingkat perasaan dan kesadaran.
Pendukung kebudayaan yang bersangkutan menggunakan kebudayaan tersebut secara selektif, yang mereka rasakan sebagai paling cocok atau yang terbaik untuk mendorong terwujudnya interpretasi-interpretasi yang penuh makna dari situasi-situasi dan gejala-gejala yang mereka hadapi dan untuk menuntun tindakan-tindakan di dalam lingkungan hidup mereka, melaui pranata-pranata dan adat istiadat yang berlaku (Suparlan, 2008 hal 2)2.
Dengan demikian membangun masyarakat sadar wisata ini berbasis pada bagaimana memanusiakan manusia atau mengangkat harkat dan martabat manusia, menjadikan para manusia yang mendiami suatu daerah/ tempat menjadi berbudaya.
Berikut tulisan lengkap Passion Pemolisian: Membangun Masyarakat Sadar Wisata Dalam Rangka Merawat Kebhinekaan, oleh Chryshnanda Dwilaksana: