TRANSPOLHUKAM

Kapolri dan Staf Khusus Presiden Bongkar “Kebrobokan” Profesor Kikiek

Lounching 20 judul buku dan pameran karya tulis 40 tahun Hermawan Sulistyo di Gedung Lembaga Ilmu Pengetauhan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Rabu (27/7/2016).[Saf]

TRANSINDONESIA.CO – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan staf khusus Presiden Joko Widodo, Komjen Pol (Purn) Gories Mere, membongkar “kebroborakan” Profesor Hermawan Sulistyo yang merupakan sosok pemberani dan tegas mengkritik institusi Polri demi Polri masa depan.

“Beliau kalau mekritik dilakukan dengan langsung (terbuka) maupun tidak langsung (tertutup). Secara terbuka di ekposes ke media. Tidak langsung melakukannya secara pribadi kepada yang menjadi sasaran kritiknya,” kata Kapolri Tito memuji “kebobrokan” kritikan Hermawan Sulistyo “Kikiek” pada sambutannya di acara 40 tahun berkarya Hermawan Sulistyo di Gedung Lembaga Ilmu Pengetauhan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Rabu (27/7).

Menurut Tito, kritisi Hermawan Sulistyo yang akrab dipanggil Kikiek kepada Polri sangat pedas dan terarah tapi tetap obyektif serta ingin Polri benar-benar professional.

Profesor Hermawan Sulistyo memberikan kenang-kenangan berupa buku pada Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian pada acara lounching 20 judul buku dan pameran karya tulis 40 tahun Hermawan Sulistyo di Gedung Lembaga Ilmu Pengetauhan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Rabu (27/7/2016).[Saf]
Profesor Hermawan Sulistyo memberikan kenang-kenangan berupa buku pada Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian pada acara lounching 20 judul buku dan pameran karya tulis 40 tahun Hermawan Sulistyo di Gedung Lembaga Ilmu Pengetauhan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Rabu (27/7/2016).[Saf]
“Karena beliau sangat tahu kapan melakukan kritikan dan kapan melakukan pujian kepada Polri. Karena itulah, Kikiek selalu tampil apa adanya. Beliau berpakaian, ya selalu seperti ini (maksudnya; ala cowboy atau eksentrik tak sama dengan intelektual-intelektuan pada umumnya). Sampai sepatu aja, ya seperti itu lah,” kata Tito membuka kebiasaan Kikiek di dpean ratusan peserta yang hadir.

“Polri sangat perlu masukan dari seorang intelektuak seperti Pak Kikiek. Beliau sahabat saya, guru saya dan saya sudah mengenalnya sejak lama,” aku jenderal bintang empat itu.

Pada background acara Kikiek, dihiasi tempelan kata-kata ucapan dari tokoh seperti Dr Daniel Dhakidae yang menyebutnya “Kikiek Menghina Kita”  dan dari Gus Dur menyebutnya “Kikek Intelektual Gila”.

Kemudian pujian “kebobrokoan” kembali datang dari staf khusus Presiden Joko Widodo, Gories Mere mengaku sering ‘berkelahi’ dengan Kikiek.

Perkelaahian yang dimaksudkan Gories, dimulai saat menangani kasus pembunuhan warga negara Indonesia di Amerika Serikat yang pelakunya adalah Oki Harnoko Dewantono, warga negara Indonesia.

Lounching 20 judul buku dan pameran karya tulis 40 tahun Hermawan Sulistyo di Gedung Lembaga Ilmu Pengetauhan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Rabu (27/7/2016).[Saf]
Lounching 20 judul buku dan pameran karya tulis 40 tahun Hermawan Sulistyo di Gedung Lembaga Ilmu Pengetauhan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Rabu (27/7/2016).[Saf]
Gories yang menjadi ketua tim saat itu ditugaskan untuk membawa Oki ke Indonesia guna diadili. “Sudah hampir berhasil, tapi Kikiek dan wartawan lainnya mengganggu. Meminta menjelaskan secara terbuka. Ya, awalnya saya tidak mau karena takut gagal,” aku Gories.

Tapi akhirnya kata Gories, Kikiek memberi ‘bocoran halus’ untuk dapat membawa pelaku dan akhirnya sukses membawa Oki dan diadili di Indonesia.  “Itu kejadian 20 tahun lalu,” bongkar Gories yang hadir dalam acara tersebut .

Setelah peristiwa tersebut, Gories kembali bertemu Kikiek di negara Paman Sam itu saat ditugaskan dan diberi tanggung jawab membawa ‘Ratu’ Ekstsi, Zarima Mirafsur ke tanah air.

“Ketemu lagi dengan Kikiek. Ketika itu Kikiek sedang study mengambil masternya. Begitu lagi, saya diganggunya. Saya sudah lobby sana-sini untuk dapat membawa Zarima dan sudah deal, tinggal dibawa. Tiba-tiba Zarima menolak dengan alasan di Inonesia akan dibunuh,” kata Gories.

Usut punya usut, ternyata yang ngomong gitu Kikiek. “Kikiek bilang ke Zarima jangan percaya Gories. Tukang bohong. Kamu ke Indonesia akan dibunuh,” aku Gories disambut tawa peserta.

Namun akhirnya Gories berhasil memboyong ratu ekstasi itu ke Indonesia. “Di pesawat saya telepon Kikiek. Zarima sudah di pesawat menuju Indonesia. Kita berdua tertawa,” kenang Gories.[Saf]

Related posts

Pemimpin: Kualitas Kerja sebagai Maestro dengan Maha Karyanya

transindonesia.co

Darurat Asap, Aib Bangsa

transindonesia.co

Budi Mulya Kecewa Atas Tindakan Boediono

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.