Indonesia Berdakwah

Tempered Radical Vs Preman Birokrasi

Patroli Polisi Tempoe Doeloe.(ist)
Patroli Polisi Tempoe Doeloe.(ist)

TRANSINDONESIA.CO – Tempered radical dapat dipahami sebagai kelompok atau golongan diluar dari main stream, yang berpikir berbeda “out of the box” yang mungkin dianggap aneh cara pandangnya diluar cara memandang pada umumnya “vokal tetapi loyal”.

Yang menganut nilai-nilai yang berbeda dengan yang lain dan yakin untuk berjuang untuk menegakannya.

Orang-orang yang tergolong tempered radical memiliki kepekaan  dan kepedulian terhadap institusinya, walau kadang dianggap sebagai duri dalam daging.

Mereka mengkritisi, membuat otokritk yang pahit dan keras namun itu sebagai obat. Ibarat memasukan virus bukan untuk mematikan, melainkan untuk kekebalan, kekuatan dan ketahanan.

Mereka itulah sebenarnya sebagai early warning system untuk perbaikan institusi.

Dalam brokrasi yang patrimonial dan sarat dengan nuansa feodalisme orang-orang tempered radical biasanya akan disingkirkan, dianggap benalu, bahkan bisa dimatikan hidup dan penghidupannya.

Karena dianggap sebagai pengganggu kenyamanan dan kenikmatan yang selama ini dinikmati.

Dalam mengembangkan dan membangun inisiatif anti korupsi dan membangun capacity building orang-orang tempered radical haruslah ditemukan terlebih dahulu sebagai penjuru, pilar, agen-agen perubahan, kemudian membangun sistemnya.

Mengapa demikian? Orang yang tergolong tempered radical ini sebagai pejuang yang berani menjadi fighter  melawan arus, bahkan sang naga preman birokrasi.

Disituah letak loyalitasnya dalam menegakan keyakinan dan kebenaran yang diyakininya, walaupun susah payah dan mengalami banyak kesulitan di jalan terjal berliku tetap gigih untuk terus maju pantang menyerah.

Militansinya tidak diragukan lagi bagi kemajuan dan kekuatan organisasi untuk tumbuh menjadi sehat, rasional dan anti KKN.

Tidak serta merta dengan mudah menemukan orang-orang tempered radical, namun memberi peluangdan apresiasi kepada orang-orang yang baik dan benar untuk dapat hidup tumbuh dan berkembang.

Sehingga kualitas mereka akan terus meningkat. Proses memberi tempat bagi orang baik dan benar sangatlah efektif untuk menemukan para tempered radical.

Tatkala mereka bisa memimpin maka loyaitas, ketulusan hati, kepekaan dan kecerdasan serta pola pikir akan diterapkan bagi kemajuaan atau setidaknya memberikan solusi keluar dari zona nyaman demi perkuatan dan penyelamtan birokrasi.

Bidang pembinaan sumber daya manusia,bidang pengawasan, dan bidang perencanaan bersama-sama memberdayakan untuk menjadi pilar bahkan benteng birokrasi sehingga dapat ditumbuh kembangkan terus sampai dengan level nasional, regional bahkan global.

Dimana kelompok-kelompok status quo, confort zone, preman/mafia birokrasi akan mati-matian menentangnya dan terus menggerogoti mereka agar tidak nyaman, atau selalu dilemahkan.

Back-up pimpinan, dukungan dari rekan sejawat dan masyarakat sangat dibutuhkan bagi mereka untuk menumpas kaum-kaum pecundang yang merasa memiliki dan menguasai birokrasi dengan berbagai jasa semu (berbasis uang atau menghalalkan segala cara untuk menguasai sumber-sumber daya birokrasi).

Tatkala pemimpin takut, tidak mampu melindungi apalagi memberi kesempatan kelompok tempered radical maka dapat dipastikan, KKN akan merajalela dan preman-preman birokrasi akan merasa menjadi pemenang, penguasa, pahlawan kesiangan yang menggadaikan kebanggaan dan kehormatan instiusi.

Kembali disini, sang pemimpin kebingungan dan gigit jari menyesali atas impotensinya yang tak lagi bisa dibanggakan, karena lemah dan dibawah tekanan para preman-preman birokrasi.(CDL-PKBJUANG131014)

Penulis: Chryshnanda Dwilaksana

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.