
TRANSINDONESIA.CO – Ini mungkin baru pertama kali terjadi di Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat, Sumatera Utara, hakim meminta alamt rumah orangtua terdakwa kasus Narkoba di Kota Tanjungbalai.
Hakim yang meminta alamat orangtua terdakwa adalah hakim anggota, Taufik Nainggolan SH. Sebelumnya sidang, hakim Taufik Nainggolan memanggil terdakwa Samuda Syafri Simanjuntak alias Syafri (26) warga Lingkungan II Teluknibung Kota Tanjungbalai, setelah memohon ijin dari penasihat hukum terdakwa, Senin (8/9/2014).
“Di mananya alamat orangtuamu di Tanjungbalai,” kata Taufik sambil mengambil kertas.
Dengan nada yang pelan, terdakwa menjelaskan alamat orangtuanya di Tanjungbalai kepada hakim Taufik. Atas sikap hakim tersebut, sejumlah pengunjung sidang merasa ganjil. Ada maksud tujuan hakim Taufik.
“Ada apa hakim meminta alamat orangtua terdakwa. Kan, aneh. Apa maksudnya? Apa mau menjumpai orangtua terdakwa sabu itu,” tukas Robet, pengunjung sidang PN Rantauprapat.
Setelah Taufik meminta dan mencatat alamat orangtua terdakwa, Ketua Majelis Hakim Fitriadi SH membuka sidang dengan menyatakan sidang terbuka untuk umum, dengan agenda pemeriksaan terdakwa Hamuda Syafri Simanjuntak alias Syafri (26) dan Budiman (21) warga Lingkungan III Teluknibung Kota Tanjungbalai.
Dalam persidangan itu, Jaksa penuntut umum Naharuddin Rambe SH dan Susi Sihombing SH mempertanyakan asal usul sabu seberat 3 gram kepada terdakwa.
“Di BAP anda menyebutkan barang bukti sabu seberat 3 gram diperoleh dari Ucok, untuk dijual kembali,” tanya Naharuddin.
Menanggapi pertanyaa JPU, terdakwa mengaku telah disiksa oleh polisi agar mengakui bahwa sabu tersebut adalah milik terdakwa.
“Bukan milik kami itu. Tiba-tiba sabu itu sudah ada di bawah bangku kami,” jawab terdakwa. Karena keterangan terdakwa berbelit-belit, JPU meminta agar majelis hakim menunda persidangan.
“Sidang ditunda Minggu depan,” sebut Ketua Majelis Hakim Fitriadi SH mengetuk palu. Sementara itu, Humas PN Rantauprapat Armansyah Siregar SH, ketika dikonfirmasi terkait hakim meminta alamat orangtua terdakwa, akan mengonfirmasi hakim bersangkutan. “Nanti saya tanya dulu hakimnya,” katanya.
Untuk diketahui, dalam dakwaan JPU, terdakwa Sahmuda dan Budiman ditangkap polisi dari Polsek Kualuh Hulu, Jumat 4 April 2014 sekira pukul 01:00 WIB.
Saat itu, kedua terdakwa sedang berkunjung ke rumah keluarganya di Guntingsaga Kecamatan Kualuh Selatan dalam acara pesta pernikahan. Saat acara berlangsung, kedua terdakwa berkelahi dengan salah seorang warga setempat. Akibat perkelahian itu, sejumlah warga mencoba mendamaikan dengan membawa kedua terdakwa ke sebuah warung untuk mencari solusi. Saat sedang mencari solusi, tiba-tiba warga menemukan 7 paket sabu seberat 3 gram di bawah bangku terdakwa.
Melihat sabu itu, warga menghubungi polisi, dan terdakwa pun dibawa kantor Polsek di Aekkanopan.
JPU mendakwa kedua terdakwa melanggar pasal 114 KUHP Junto 132 KUHP, subsidair pasal 112 KUP junto 132 KUHP.(bus)