Indonesia Berdakwah

Dana Besar, Polri Tak Mampu Hentikan Pembakaran Surat Suara

surat suara pileg dibakarPuluhan ibu-ibu membakar surat suara pileg, di Jambi pada Kamis (17/4/2014).(ist)

 

 

TRANSINDONESIA.CO, Jakarta – Aksi pembakaran surat suara Pemilu 2014 terus terjadi secara beruntun. Aparat kepolisian seakan tidak mampu mencegah aksi brutal ini.

“Akibatnya, sepanjang prose Pemilu 2014 atau sebulan terakhir ada tujuh kasus pembakaran surat suara. Polri bisa dikatakan gagal menjaga keamanan pasca pencoblosan,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dalam siaran persnya di Jakarta, Minggu (20/4/2014)..

Dari data IPW kata Neta, aksi brutal pembakaran surat suara terjadi di Sulawesi Tengah ada dua peristiwa, dan satu peristiwa di Jambi, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Bengkulu, serta Nusa Tenggara Timur.

“Enam kasus pembakaran surat suara terjadi setelah pencoblosan dan satu peristiwa sebelum pencoblosan. Aksi pembakaran itu terjadi di dua di kantor desa, tiga di kantor kecamatan, dan satu peristiwa terjadi saat massa mengamuk di kantor KPUD,” kata Neta.

Tragisnya lanjut Neta, aksi pembakaran itu ada yang dilakukan secara terang-terangan, misalnya di Jambi dan di Bima. Surat suara diambil dari kantor desa dan dibakar di halaman kantor desa. Polisi yang berjaga tidak berdaya menghadapi aksi massa. Selain itu ada pula kantor kecamatan yang dilempar bom molotov hingga seluruh surat suara terbakar.

Aksi teror yang terus berlanjut ini tentu sangat meresahkan masyarakat. Di sisi lain polisi tidak berdaya menghentikan aksi teror ini.

Dengan alasan jumlah personil yang terbatas, polisi seolah mendapat pembenaran untuk membiarkan massa membakar surat suara apalagi dana pengamanan Pemilu untuk polri tidak kecil.

“Padahal seharusnya polisi meningkatkan kinerja intelijen dan babinkamtibmasnya di sepanjang proses Pemilu 2014, sehingga bisa dengan maksimal melakukan deteksi dan antisipasi dini. Apalagi dana untuk pengamanan Pemilu yang diterima Polri cukup besar,” katanya.

Sehingga kata Neta, polisi tidak kelabakan saat massa muncul dan tidak membiarkan saat massa membakar surat suara.

Dengan adanya rentetan aski pembakaran surat suara di berbagai daerah ini, Polri bisa dikatakan gagal dalam menjaga keamanan pasca pencoblosan Pemilu 2014.

“Jika kinerjanya seperti ini, dikhawatirkan pasca penghitungan suara Pemilu 2014, Polri tidak mampu mengendalikan situasi maupun eskalasi politik yang kian tinggi,” katanya.(yan)

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.