Pulau Atol 1905 Lenyap Dihantam Topan Kini Muncul Kembali

Atol muncul kembaliAtol atau pulau karang yang pernah lenyap kini muncul kembali.(nzh)

 

TRANSINDONESIA.co, Majuro Atoll : Pernah lenyap, Atol atau pulau karang di Negara Kepulauan Marshall di Samudra Pasifik pada 1905 akibat disapu topan dan badai kini muncul lagi.

Hal itu ditunjukkan lewat hasil penelitian Dr Murray Ford dan Prof Paul Kench. Pada 30 Juni, 1905, angin topan disertai badai besar menerjang kepulauan yang beribukota di Majuro Atoll itu. Badai dahsyat itu tak hanya merenggut lebih dari 300 jiwa tetapi juga melenyapkan sebagian besar wilayah di beberapa atol yang terletak di kepulauan itu.

Sejatinya, yang mati akan terus mati. Namun, tidak dengan sejumlah atol di negara kepulauan yang merdeka pada tahun 1986 itu. Beberapa atol yang mati atau lenyap, seperti Nadikdik Atoll, telah ‘terlahir’ kembali.

Dalam jurnal geomorfologi — sebuah ilmu yang mempelajari tentang proses pembentukan alam — yang dikeluarkan Universitas Auckland, Selandia Baru, disebutkan terjadi pergerakan pembentukan pulau-pulau karang dalam kurun waktu yang cukup singkat.

Dr Murray Ford dan Prof Paul Kench meneliti perubahan yang terjadi di Nadikdik Atoll, sebuah pulau karang yang berada di wilayah Kepulauan Marshall bagian utara, sejak sebagian besar wilayahnya lenyap oleh badai lebih dari seabad silam.

Foto-foto dari udara yang diambil sejak akhir Perang Dunia (PD) II sampai 2010 menunjukan adanya perubahan signifikan yang terjadi di pulau-pulau tersebut.

Dalam kurun waktu 65 tahun, sebuah pulau yang tadinya tandus kini hampir seperempat bagiannya mulai dipenuhi oleh tumbuhan. Sedangkan, sejumlah pulau kecil yang tadinya terpisah kini menyatu menjadi sebuah pulau yang lebih besar.

“Badai pada tahun 1905 silam itu membawa material endapan dan karang dalam jumlah besar ke pulau-pulau itu yang kemudian membantu pulau tersebut untuk tumbuh kembali. Hasilnya, beberapa pulau baru terbentuk,” jelas Dr. Murray dari Universitas Auckland, Selandia Baru, seperti dikutip dari New Zealand Herald, Jumat (21/2/2014).

Dr. Murray yang pernah tinggal di Kepulauan Marshall selama kurang lebih 3 tahun itu menjelaskan, perubahan tersebut terjadi sangat cepat dan menunjukan bahwa sejumlah pulau karang dapat dengan cepat muncul ke permukaan.

“Fakta yang ada menunjukan, meski badai itu terjadi pada satu abad yang lalu, pembentukkan dari pulau-pulau tersebut masih berlangsung sampai sekarang,” kata Murray.

Fenomena ini diakui Dr. Murray memiliki arti yang begitu besar bagi pulau-pulau di Samudera Pasifik yang terancam hilang oleh naiknya permukaan air laut akibat pemanasan global.

“Setidaknya, meski badai seperti yang terjadi seabad lalu dapat melenyapkan sejumlah bagian pulau, bagian yang hilang pun pada akhirnya akan kembali muncul,” pungkas Dr. Murray.

Badai yang menerjang Kepulauan Marshall itu menghancurkan pulau Mile, Nadikdik, Jaluit, Arno dan Majuro. 227 Jiwa melayang tersapu ombak, sedangkan 90 orang lainnya meninggal dunia beberapa bulan kemudian karena menderita kelaparan.(fen/yan)

 

Bagikan

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TransIndonesia.co