Pramoedya dan Nobel yang Tak Mampir di Tangan

Pramoedya Ananta Toer

 

TRANSINDONESIA.co, Jakarta : Di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, lahir seorang bocah laki-laki. Puluhan tahun kemudian, ia menjadi satu-satunya penulis Indonesia yang pernah diusulkan untuk mendapat Nobel Sastra.

Ia adalah Pramoedya Ananta Toer. Usulan tersebut terutama didasarkan pada novel-novel yang dihasilkannya di Pulau Buru, yang dikenal sebagai tetralogi Bumi Manusia: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

4 novel itu berlatar kisah pergerakan nasional dibalut kehadiran sejumlah tokoh seperti Minke dan Annelies Mallema. Semua cerita tersebut didedahkan secara lisan kepada tahanan-tahanan lain semasa Pramoedya diasingkan di Pulau Buru, 1965-1979.

Indonesianis dari Universitas Cornell, AS, Ben Anderson menulis, “Tidak ada panorama dahsyat seperti ini dalam fiksi-fiksi lain oleh penulis dari Asia Tenggara dalam 50 tahun terakhir.”

Setelah bebas, Pramoedya menerbitkannya secara bertahap pada 1980-1988. Kejaksaan Agung segera dilarang peredarannya tak lama setelah diterbitkan. Karya-karya itu dituding mengandung pesan Marxisme-Leninisme.

Bersama ribuan orang lain, Pramoedya dikirim ke Pulau Buru dan dipenjarakan selama 14 tahun. Tanpa proses pengadilan. Penahanan ini adalah buntut Gerakan 30 September 1965. Partai Komunis Indonesia (PKI) dituding bertanggung jawab. Pimpinan, kader, dan simpatisannya dikejar atau dibunuh.

Dalam kasus Pramoedya, aparat militer juga menyita rumahnya serta membakar koleksi buku dan sejumlah naskah yang belum diterbitkan.

Pram sendiri bukan tak ‘mengharapkan’ Nobel. Ada kisah menarik yang disampaikan adik kandungnya, Koesalah Soebagyo Toer. Di rumah Pramoedya di Bojonggede, Bogor, April 2004, Pram tiba-tiba berujar, “Oktober nanti dapat Nobel aku.”

Koesalah kaget. “Ada berita?”

“Gak ada.”

“Jadi itu hitungan Mas Pram sendiri?”

“Ya, tapi tahun ini nggak ada saingan. Dan jatah untuk Asia kan lima tahun sekali.”

“Jangan terlalu berharap.”

“Bukan mengharap.”

“Lalu, dari mana tahunya?”

Pram menunjuk dirinya dengan tangan kiri tanpa berucap. Koesalah menceritakan itu dalam buku Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali: Catatan Pribadi Koesalah Soebagyo Toer.

Nobel tak pernah di genggaman Pramoedya. Pada 2005, namanya disebut-sebut kembali masuk daftar kandidat penerima Nobel Sastra. Bukan daftar resmi–hanya semacam bocoran. Daftar itu sendiri sangat dirahasiakan. Ternyata, dramawan Inggris, Harold Pinter, yang diganjar penghargaan tersebut.

Ada sejumlah spekulasi soal mengapa Nobel tak mampir ke Pram. Salah satunya, penerjemahan ke bahasa Inggris yang buruk. Ini membuat kualitas kesusastraannya merosot.

Pada Minggu 30 April 2006, Pramoedya tutup usia setelah lama menderita komplikasi diabetes dan jantung. Ia dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat.

Karya Pramoedya abadi. Buku-bukunya, terutama yang terbit di dekade 1950-an seperti Keluarga Gerilya atau Perburuan, dibanderol ratusan ribu rupiah di tangan pedagang buku bekas.(lp6/saf)

 

Bagikan

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TransIndonesia.co