127 Gunung Api di Indonesia, 1 Awas, 3 Siaga dan 19 Waspada

Sinabung Awas Gunung Sinabung berstatus Awas

 

TRANSINDONESIA.co, Jakarta : Adanya peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Kelud, yang statusnya Waspada (level II) pada Minggu (2/2/2014), masyarakat dihimbau tidak panik dan cemas dengan hal ini.

Pemberitaan media yang intensif dan berlebihan mengenai peningkatan aktivitas gunung api seringkali justru menyebabkan dampak negatif di masyarakat. Obyek-obyek wisata, hotel, pertanian dan aktivitas ekonomi yang berada di luar daerah berbahaya menjadi sepi.

“Hal ini terjadi di Gunung Bromo, Ijen, Dieng, Tangkubanprahu, Papandayan, dan lainnya. Bahkan aktivitas wisata dan hotel-hotel di Kabanjahe saat ini pun sepi pengunjung karena masyarakat jadi takut berkunjung padahal lokasinya jauh dan aman dari Gunung Sinabung,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan persnya yang diterima transindonesia.co di Jakarta, Senin (3/2/2014).

Gunung api kata Sutopo, bersifat slow in set, artinya tidak akan tiba-tiba meletus.

“Ada tanda-tandanya sehingga status gunung punya tahapan yaitu dari normal kemudian menjadi waspada, siaga, dan awas sesuai ancamannya,” tutur Sutopo.

Dari 127 gunung api aktif di Indonesia kata Sutopo, ada 1 gunung berstatus Awas (level IV) yaitu Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara, sejak (24/11/2013).

Untuk gunung status Siaga (level III) ada 3 gunung yaitu, Karangetang, Lokon dan Rokatenda.

“Ada 19 gunung status Waspada (level II) yaitu, Kelud, Raung, Ibu, Lewotobi Perempuan, Ijen, Gamkonora, Soputan, Sangeangapi, Papandayan, Dieng, Seulewah Agam, Gamalama, Bromo, Semeru, Talang, Anak Krakatau, Marapi, Dukono, dan Kerinci. Lainnya berstatus normal,” kata Sutopo.

Makna dari status Waspada adalah ada kenaikan aktivitas di atas level normal, apapun jenis gejala diperhitungkan. Tidak kritis. Yang diperlukan adalah sosialisasi, kajian bahaya, pengecekan sarana, dan piket terbatas.

Sedangkan makna status Siaga adalah semua data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana.

“Kondisinya kritis sehingga perlu sosialisasi di wilayah terancam, penyiapan sarana darurat, koordinasi harian, dan piket penuh,” kata Sutopo.(sof)

 

Bagikan

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TransIndonesia.co