WNI Diminta Waspada Wabah Flu Burung di RRT

Flu Burung

TRANSINDONESIA, Jakarta : Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), pada Rabu (14/1/2014), telah menerima surat pemberitahuan resmi dari Kementerian Pertanian RRT mengenai wabah penyakit menular Flu Burung (H5N1) di wilayah Tiongkok. KBRI meminta WNI yang berada di Tiongkok atau hendak menuju negara itu untuk lebih waspada.

“Secara umum dilaporkan bahwa wabah penyakit menular flu burung terakhir ditemukan di Kota Wan Jia, Kecamatan Pai Shi, Kabupaten Yang Xin, Kota Huang Shi, Provinsi Hubei, pada tanggal 13 Januari 2014,” bunyi siaran pers KBRI Beijing seperti dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Kamis (16/1/2014).

Dijelaskan, hewan yang terjangkit wabah flu burung tersebut berjumlah 6,700 ekor ayam, sedangkan sebanyak 3,200 telah mati.Adapun  46,800 ekor yang terinfeksi telah dimusnahkan.

Pemerintah kota setempat menyatakan telah melakukan langkah-langkah pengontrolan dan penanganan penyakit menular sesuai dengan persyaratan penanggulangan darurat terhadap kasus flu burung.

KBRI Beijing juga mencatat bahwa berbagai media massa di RRT telah memuat berita mengenai meningkatnya wabah dan penularan H7N9 kepada manusia di wilayah Tiongkok.

Sejak bulan Maret 2013 tercatat telah terjadi 176 kasus infeksi H7N9 di Tiongkok, yakni di Zhejiang (63 kasus), Shanghai (37 kasus), Jiangsu (30 kasus), Guangdong (18 kasus), Fujian (7 kasus), Jiangxi (6 kasus), Anhui (4 kasus), Henan (4 kasus), Beijing (2 kasus), Hunan (2 kasus), Shandong (2 kasus) dan Hebei (1 kasus).

Adapun 20 kasus baru terjadi sejak awal Januari 2014, termasuk 3 kasus H7N9 yang dilaporkan di wilayah Provinsi Shanghai, Fujian dan Zhejiang pada hari Rabu (15/01). Kasus fatal yang terakhir teridentifikasi adalah pada bulan Agustus 2013 di Provinsi Hebei.

Merujuk kasus outbreak virus H5N1 dan H7N9 terbaru di Tiongkok itu, KBRI Beijing mengimbau seluruh WNI yang berada di wilayah akreditasi untuk selalu menjaga kondisi kesehatan guna terhindar dari penyakit tersebut.

“H5N1 dan H7N9 umumnya ditemukan pada unggas, namun sejak akhir tahun 2012 teridentifikasi penularan H7N9 kepada manusia, dengan kasus khusus di wilayah RRT,” tulis siaran pers KBRI Beijing.

Gejala terserang H5N1 dan H7N9 meliputi panas demam, batuk dan sesak nafas. “Infeksi virus ini dapat mengakibatkan penyakit pernafasan akut (severe respiratory illness) dan dapat menyebabkan kematian.

Meskipun kasus ini tetap mendapatkan pengawalan khusus dari Pemerintah RRT dan WHO, menurut KBRI Beijing, sejauh ini belum ada pemerintah negara lain yang menerbitkan travel warning ke RRT.

Saat ini belum ada vaksin terhadap H5N1 maupun H7N9, untuk itu KBRI Beijing dan Kementerian Kesehatan menghimbau WNI yang tinggal dan berkunjung ke RRT untuk melakukan upaya-upaya pencegahan.

Warga diminta untuk menghindari kontak dengan unggas, babi dan binatang ternak maupun binatang lainnya, serta sedapat mungkin tidak melakukan penyembelihan binatang-binatang tersebut.

WNI diminta hanya mengkonsumsi makan daging/unggas yang benar-benar matang dan dihidangkan dalam keadaan segar (panas), serta menghindari jajanan di pinggir jalan. WNI diminta selalu menjaga kebersihan pribadi, khususnya kebersihan tangan, dengan membawa cairan pembersih (sabun dan tissue basah antiseptic). “Segera lakukan konsultasi ke dokter apabila anda jatuh sakit selama berada di RRT atau sekembali dari RRT,” demikian bunyi pernyataan KBRI Beijing.(pi/met)

 

 

Bagikan

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TransIndonesia.co