Indonesia Tuan Rumah Ke-7 Simulasi Respon Bencana Regional ASEAN

Monday, 5 November 2018, 12:10:28 | TRANSGLOBAL

Bencana umumnya bisa memengaruhi siapapun, tanpa melihat latar belakang profesi atau kewarganegaraan

Pembukaan Ardex di Hotel Royal Krakatau, Senin 5 Nopember 2018.[IST]

TRANSINDONESIA.CO | CILEGON – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on disaster management (AHA Centre) resmi membuka ASEAN Regional Disaster Emergency Response Simulation Exercise atau Ardex yang ketujuh.

Pembukaan ARDEX turut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal ASEAN, Dato Lim Jock Hoi, Gubernur Banten dan Walikota Cilegon. Kegiatan yang bertempat di Kota Cilegon, Provinsi Banten ini melibatkan ratusan profesional kebencanaan dari 10 negara anggota ASEAN yang bertanggung jawab menerapkan kebijakan manajemen bencana di tingkat nasional maupun regional.

Kepala BNPB Willem Rampangilei menyampaikan bahwa Ardex ini merupakan upaya sebagai solidaritas satu ASEAN untuk meningkatkan kesiapan, mitigasi dan kesiapsiagaan di kawasan Asia Tenggara. “Ardex juga sebagai wadah untuk meningkatkan kapasitas bersama dan membagikan gagasan demi pencapaian penanggulangan bencana yang terbaik,” kata Willem dalam pembukaan Ardex di Hotel Royal Krakatau, Senin 5 Nopember 2018.

“Saya berharap bahwa kegiatan ini berlanjut untuk menanamkan kepada kita (ASEAN) terhadap pentingnya kerjasama dalam mengurangi kerugian bencana dan meningkatkan upaya kolektif terhadap bencana untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di kawasan,” tambah Willem.

Direktur Eksekutif AHA Centre, Adelina Kamal, menegaskan bahwa, wilayah ASEAN bisa dikategorikan sebagai salah satu kawasan yang rentan bencana, namun pengalaman bertahun-tahun menghadapi bencana alam juga membangun kekuatan dan kesiapsiagaan bersama.

“Bencana umumnya bisa memengaruhi siapapun, tanpa melihat latar belakang profesi atau kewarganegaraan. Dengan memahami dan melatih mekanisme kerjasama internasional untuk manajemen bencana yang sudah ada, kita sudah selangkah lebih dekat mewujudkan ASEAN yang tangguh. Ardex membantu setiap peserta untuk mengeksplorasi dan mengakui kapasitas masing-masing negara ASEAN saat berhadapan dengan kondisi darurat sesungguhnya,” kata Adelina.

Ardex memadukan komponen strategis dan taktis yang menjadi bagian dari kerjasama internasional jika terjadi bencana skala besar, terutama yang mempengaruhi lebih dari satu negara pada saat bersamaan. Oleh karena itu, kegiatan Ardex meliputi gladi ruang yang melibatkan para pengambil keputusan (TTX), pararel dengan geladi pos komando (CPX) dan geladai lapangan (FTX) dengan pengerahan tim respon di lapangan.

Persiapan Ardex sudah berlangsung sejak tahun 2017, dengan memadukan berbagai mekanisme respon bencana yang sudah berlaku di ASEAN, misal the ASEAN Joint Disaster Response Plan (AJDRP), the ASEAN Standby Arrangement Standard Operating Procedure (SASOP), the ASEAN Emergency Response and Assessment Team (ERAT), dan panduan untuk operasional Joint Operation and Coordinating Centre of ASEAN (JOCCA). JOCCA sendiri merupakan pusat koordinasi lapangan bagi tim respon internasional yang mendukung upaya tanggap darurat di negara ASEAN yang terdampak bencana.

Mekanisme yang disebutkan di atas sudah dikenal dan diadopsi oleh lembaga-lembaga ASEAN yang bertanggung jawab dalam manajemen kebencanaan, seperti BNPB. Namun, kompleksitas bencana perlu melibatkan mitra-mitra lain dari berbagai sektor dan latar belakang. Peserta yang hadir meliputi pembuat kebijakan, organisasi kemanusiaan, atase pertahanan negara, perusahaan, dan komunitas akademik, baik di tingkat ASEAN maupun internasional lainnya. Selama Ardex berlangsung, peserta menguji kesiapan masing-masing negara dalam bekerjasama mengatasi tiga risiko bencana sekaligus di area industri: gempa bumi, tsunami, dan kebocoran bahan material berbahaya.

Ardex didesain sebagai forum yang partisipatif dan inklusif untuk memastikan respon bencana antar-institusi dapat terkordinasi dengan baik di tingkat nasional, regional, dan internasional. Oleh karenanya, keterlibatan pihak militer, tim medis darurat, kementerian luar negeri, perusahaan, akademisi, dan mitra media menjadi wajib dan tidak dapat ditawar. Melalui Ardex, negara-negara ASEAN bertujuan meningkatkan upaya mitigasi bencana dan memastikan kerjasama dapat berjalan secara terpadu untuk meminimalkan dampak korban dan kerugian akibat bencana. Hadir pada Ardex 2018 ini 170 delegasi internasional dari negara ASEAN, Uni Eropa, Australia, Kanada, Selandia Baru, Norwegia, Rusia, Amerika Serikat, Jepang, Swiss, Inggris, ASEAN Sekretariat, PBB, dan AHA Centre.

Ardex 2018 yang akan diselenggarakan di Kota Cilegon nanti diharapkan menjadi capaian bersama untuk membangun kawasan regional yang tangguh menghadapi bencana. Berdasarkan analisis risiko dari Pemerintah dan para ilmuwan, Kota Cilegon merupakan salah satu wilayah yang memiliki risiko tinggi dari bencana gempa bumi dan tsunami.

Di sisi lain, sebagai kota industri, Kota Cilegon tidak hanya memiliki risiko terhadap bencana gempa bumi dan tsunami tetapi juga berpotensi mengalami bencana industri. Latar belakang tersebut mendorong BNPB untuk melaksanakan simulasi/latihan penanggulangan bencana di wilayah Kota Cilegon, Provinsi Banten.

Ardex secara umum bertujuan untuk menguji dan mengevaluasi mekanisme dan interoperabilitas negara-negara ASEAN dalam penyediaan informasi, koordinasi, respon penanganan darurat bencana serta peran AHA Centre sebagai wadah kerjasama ASEAN dalam mengoperasionalkan Deklarasi ‘One ASEAN One Response: ASEAN Responding as One in the Region and Outside the Region.’ Salah satu wujud bentuk deklarasi tersebut yaitu dengan keterlibatan konkret AHA Centre pada operasi penanganan darurat gempa dan tsunami Sulawesi Tengah.[MET/TRS]

tags: , ,

Related For Indonesia Tuan Rumah Ke-7 Simulasi Respon Bencana Regional ASEAN