(Guit MKI): Telolet dan Hukum

Friday, 23 December 2016, 19:06:30 | TRANSGLOBAL, TRANSPOLHUKAM

TRANSINDONESIA.CO – ‘OM TELOLET OM’ jadi trending topic dunia. Sampai-sampai melibatkan selebriti lapangan hijau Ronaldo yang acapkali terkesima dengan Indonesia. Kolom bung Bersihar Lubis dari Medan Bisnis (23/12) menyitir Real Madrid yang memajang foto Cristiano Ronaldo dengan caption “Hello Indonesia! Om Telolet Om”.

Rakyat dunia terjangkiti bahagia telolet. Ekspresi telolet adalah bahagia, tidak usah tergoda kepada analisa yang lain.

Patik sendiri pun pernah terpesona dengan klakson telolet yang dilantunkan sopir bus “Murni”, ataupun “Sempurna”, “Liberty”, dan “PPRI” yang mengawal rute Medan-Pangkalan Beranda. Atau bus mewah mengkilap “ALS” dan “Kurnia” idemditto “PMTOH” merajai rute Medan-Banda Aceh sekitar tahun 1980an.

Ilustrasi

Ilustrasi

Jangan terburu-buru protes jika patik katakan telolet adalah kebahagiaan, selain sebagai ekspresi seni dan tanda kehadiran membangunkan sunyi.

Telolet adalah kebahagian bagi anak-anak, yang terbukti tahan melewati zaman.
Kebanggaan apa hendak diraih dengan melarang dan menilang sopir bus pelantun telolet?
Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) berpendapat selama bus telolet tak membahayakan, mengapa harus dilarang?

Alamak. Mengapa tergopoh melarang telolet?

Melarangnya, bisa-bisa itu melawan hak berekspresi dan hak berpendapat yang dijamin konstitusi. Berpendapat tidak harus dalam versi demonstrasi, argumentasi atau petisi ataupun syair dan puisi. Ekspresi dan pendapat dua sisi mata uang tak terceraikan.

Kalau alasannya klakson telolet membahayakan tersebab keras suara melebihi standar 83-118 satuan desibel, bukankah suara mik rombongan demonstran yang mengepung kantor parlemen lokal lebih kuat membahana menerobos anak telinga? Kegelisahan akut apa menyelinap di relung hati perkakas pemerintah yang hendak melarang telolet?
Kawan saya Kak Seto menyebut bahwa anak-anak adalah zona damai-bahagia yang paling otentik. Eureka, reproduksi kebahagiaan anak-anak itu, bukan ikhwal mustahil beresonansi menjadi kebahagiaan kolektif bangsa?

Walau seukuran menit, telolet adalah ekspos bahagia rakyat yang sontak membiak-biak.
Bukalah textbook hukum. Bukankah tujuan hukum adalah kebahagiaan sebesar-besarnya bagi orang sebanyak-banyaknya, seperti ajarah filsuf hukum Jeremi Bentham (1748-1783).

Tanyakan lagi kepada pak Bentham, masihkah relevan itu untuk negara hukum kita? Setakat ini? Lantas untuk apa “menilang” lokus pertambangan kebahagiaan?
Kami pernah berdiskusi ringan cenderung “out of the box” di klub USULAN (USU Law And Network) ikhwal kebahagiaan sebagai tujuan hukum. Salahkah jika ada yang hendak membuat petisi menambahi label sekolah hukum menjadi Fakultas Hukum dan Kebahagiaan? Pertanyaan kecil itu sampai kini masih “tergeletak”, belum ada yang bersyukur memungutnya sebagai mutiara berharga trisula.

Kembali kepada telolet. Jangan-jangan telolet adalah anasir domestik-lokal kesekian yang mendunia yang dimiliki Indonesia. Setelah rendang padang dan tempe? Sembari minum kopi sore, Jumat (23/12), patik hendak berpuisi: “Sudahkah anak anda merengekkan ‘Om Telolet Om’ hari ini? Pastikan anak anda bahagia.[Muhammad Joni – Advokat]

tags: , , ,

Related For (Guit MKI): Telolet dan Hukum