Ahok Panik Hadapi Sidang

Sunday, 11 December 2016, 15:00:37 | TRANSMETROPOLITAN, TRANSPOLHUKAM

TRANSINDONESIA.CO – Belum lagi sidang perkara pidana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) digelar, nampak telah terjadi kepanikan demi kepanikan menghadapi persidangan itu.

Paling tidak ada dua bentuk kepanikan yang utama terjadi, yakni kepanikan yang ditunjukkan oleh pihak penyelenggara persidangannya dan kepanikan yang ditunjukkan oleh pihak Jaksa Agung (Jakgung) inheren Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sehingga kepanikan ini membuat adanya tanda tanya publik, yakni ada apa gerangan dan mengapa hal itu bisa terjadi?

Fathullah

Fathullah

Pertama, dengan adanya informasi yang berubah-rubah mengenai tempat sidang yang menimbulkan dugaan publik yang beragam. Hal itu memang tak seperti kelazimnya, bahwa pengadilan yang menyidangkannya bisa tidak di lokasi pengadilan itu berada.

Dalam hal ini, publik mendapat informasi pertama kalinya dari pihak terkait di pengadilan yang menyatakan persidangan akan diselenggarakan bertempat di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara Kemayoran, sekali pun kondisi bangunan PN itu kini masih dalam renovasi yang belum selesai.

Namun tak begitu lama informasi itu tiba-tiba berubah, bahwa sidang perdana akan dipindahkan ke bekas PN Jakarta Pusat di Jl. Gajah Mada Jakarta Pusat.

Namun mengenai tempat itu beberapa hari kemudian diinformasikan berubah lagi ke Gedung Serba Guna Cibubur dengan alasan bahwa di depan gedung bekas PN Jakarta Pusat itu  terlalu sempit, sehingga dikuatirkan akan dipenuhi oleh para pendemo pada saat sidang berlangsung.

Adanya informasi terakhir ini memang belum final karena belum ada penjelasan resmi lebih lanjut.

Namun dari berubah-rubahnya informasi tempat sidang itu, ternyata hal itu telah membuat berbagai spekulasi pendapat publik akan adanya kepanikan atau mungkin ketakutan dari pihak keamanan pengadilan dengan rencana demo kawal pengadilan Ahok yang akan digelar oleh sekelompok massa umat Islam pada saat persidangan tersebut.

Kesan yang disertai dengan sikap skeptis kepada pihak pengadilan ini menjadi viral di media sosial. Kendati dari pihak publik yang lain ada juga yang memberi apresiasi kepada pihak pengadilan, karena perubahan tempat ini menurut mereka menunjukkan adanya persiapan yang matang dan khusus untuk menjaga kenyamanan pelaksanaan sidang.

Kedua, adanya kepanikan yang terkesan sumbernya dari berbagai statemen yang disampaikan oleh Jakgung HM Prasetyo belakangan ini. Betapa tidak, Jakgung dalam memberikan statemennya nampak panik dan bernada emosional, terutama dalam merespon pertanyaan dari para wartawan.

Beberapa statemennya yang dinilai kontroversial dalam perkara Ahok ini, seperti: Ahok tidak akan ditahan dan mengapa Ahok harus ditahan, karena sebelumnya juga tidak ditahan.

Kemudian, Ahok dikatakannya harus dianggap tak bersalah dan jangan dijustifikasi bersalah dulu. Demikian juga statemennya, bahwa perkara Ahok ini dipersoalkan karena ada Pilkada 2017 di DKI Jakarta yang menjadikan Ahok salah seorang calon  gubernur (cagub)-nya, dan seterusnya.

Sebenarnya tidak hanya  dalam bentuk statemennya saja yang menjadikan Kejaksaan  Agung ini terlihat panik menghadapi persidangan. Sebab, sebagaimana juga diketahui sebelumnya, dari pihak Kejaksaan Agung telah menunjuk Tim JPU bermasalah untuk perkara Ahok ini. Sebab, di antara nama yang terdaftar dalam Tim JPU itu ternyata ada salah seorang-nya yang kedapatan atau dikenali sebagai pendukung (teman) Ahok.

Sehingga tak terhindarkan, masalah sensitif itu sontak menimbulkan protes keras dan menjadi perbincangan panas di ruang-ruang media sosial. Mereka berasumsi bahwa pihak Kejaksaan Agung sepertinya dengan sengaja menyelundupkan jaksa pendukung Ahok ini untuk mengamankan pisisi Ahok dalam persidangan.

Untunglah, dengan kuatnya tekanan dan meluasnya protes dari netizen kalangan umat Islam, maka persoalan ini dapat segera diselesaikan oleh Jakgung dengan mengeluarkan yang bersangkutan dari Tim JPU tersebut. Ada pun mengenai personal Tim JPU yang lainnya, terkait dengan  catatan “track record” mereka selama ini, masih dicermati secara secara serius.

Dari sikap ambigu yang ditunjukkan oleh pihak Kejaksaan Agung yang inheren Tim  JPU dalam perkara Ahok ini, nampak sekali menunjukkan bahwa pihak JPU seperti bukan lagi sebagai pihak yang mewakili negara atau masyarakat untuk mendakwa dan menuntut terdakwa Ahok. Mereka bersikap sudah seperti Tim Pembelanya Ahok. Dengan demikian, maka menjadi pertanyaan besar bagi kita, yakni apakah masih bisa benar-benar diharapkan, Tim JPU perkara Ahok ini menjadi pihak yang mewakili kepentingan negara dan masyarakat untuk mendakwa dan menuntut Ahok?

[Fathullah – Pengamat Hukum CIDES dan Advokat di Jakarta]

Related For Ahok Panik Hadapi Sidang