Resolusi Jihad 1945 dalam Perspektif Sejarah Tematik [selesai]

Thursday, 10 November 2016, 08:22:14 | TRANSGLOBAL

TRANSINDONESIA.CO – Resolusi Jihad yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ary pada 22 Oktober 1945 sesungguhnya memberikan semangat pertempuran bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya. Namun Resolusi Jihad itu tidak dianggap sebagai bagian dari latar belakang yang menyebabkan lahirnya peristiwa 10 November 1945.

Tulisan ini berusaha menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Melalui Perspektif sejarah tematik, peristiwa itu dapat diungkap tanpa harus merevisi sejarah.

Sejarah Tematik

Studi Frederick tidak memerinci peran Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 meskipun ia menulis sejarah lokal di Surabaya mengenai Revolusi Indonesia. Hal tersebut bisa jadi jadi bukan bagian dari concernnya. Namun dari hasil studinya telah membuka suatu tantangan. Melalui sejarah sosial kita dapat menentukan tema baru yang perlu diungkap. Hal itu bisa berkisar pada resolusi jihad sebagi tema dari sejarah sosial dan berikutnya dikaitkan dengan peran laskar sabililah, hizbullah, dan eksistensi NU serta peran Muktamar Umat Islam dalam peristiwa Surabaya itu.

Kusuma Espe

Kusuma Espe

Dengan munculnya kajian lain terhadap peristiwa tersebut akan memberikan kekayaan dari data sejarah yang belum terungkap ke permukaan. Selain itu akan ter¬dapat interpretasi baru yang memperkaya khasanah pengetahuan. Karena bisa jadi suatu analisa akan gugur bila terdapat analisa baru dari suatu peristiwa dengan data yang sama. Dengan demikian perbedaan interpretasi merupakan bagian yang sah dari penulisan sejarah akademis.

Melalui kritik sumber dalam metode sejarah akan membuka kesempatan kepada para penulis sejarah, berupa akurasi, otensitias, maupun kredibilitas sejarah yang dibuat oleh para penulisnya. Oleh karena itu sebagai misal ketika masyarakat ramai memperbincangkan buku “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai” pada awal tahun 1990-an, yang amat memojokan posisi Bung Karno, maupun  buku “Bisnis dan Politik” karya Yahya Muhaimin, tahun 1990-an yang digugat oleh seorang pengusaha, kalangan sejarawan tidak terlalu serius menanggapi. Hal itu disebabkan terdapatnya standar penulisan melalui verifikasi sejarah.

Kini kita mendapatkan sedikit gambaran tentang proses sebuah buku dihasilkan. Oleh karena itu kecemasan terhadap hasil kajian seorang penulis sejarah yang ternyata memberikan gambaran yang cukup terhadap  peran  seseorang atau kelompok dari hasil studinya tidak perlu terjadi. Namun yang perlu dipertanyakan adalah apakah kita  dapat membuat kajian lain sehingga peran yang diinginkan dapat terpenuhi.

Sebagai contoh yang baik adalah buku “Ahu Si Singamangaraja” karangan WB. Sidjabat. Konon buku itu ditulis karena penulisnya merasa kecewa dis¬ebabkan pahlawannya tidak ada pengakuan nasional. Contoh tersebut setidaknya bisa memacu membuat sejarah tematik yang titik perhatiannya adalah pada Resolusi Jihad yang mengilhami peristiwa 10 November 1945 karena dari sisi sejarah yang akan dituliskan, maka suatu peristiwa sejarah memerlukan kausalitas sejarah sehingga suatu peristiwa terang terlihat alurnya mengapa peristiwa itu terjadi. Kausalitas itu yang sering terabaikan dalam penulisan sejarah. Studi Sartono Kartodirdjo dalam disertasinya tentang “Pemberontakan Banten 1888”  (Sartono Kartodirjo, Pemberontakan Banten 1888 (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984) sangat memperhatikan kausalitas dari peristiwa karena penulisnya sadar sekali bahwa peristiwa itu tidak akan terjadi bila tidak ada sebab akibat dari peristiwa lainnya.

Epilog

Paul Veyne   (Eugen Weber,   History is What Historians Do), sejarawan Perancis mengibaratkan sejarah seperti sebuah roman, sejarah bisa mengemas satu abad dalam dua halaman. Sejarah itu subjektif. Ia adalah proyeksi dari nilai-nilai yang kita anut dan jawaban dari pertanyaan yang memang kita ajukan. Kalau tukang jahit bisa mengukur baju, maka sejarawan tidak bisa mengukur peristiwa. Peristiwa tidak punya ukuran mutlak. Satu peristiwa bisa dianggap lebih penting daripada yang lainnya oleh sejarawan tergantung dari kriteria yang ditetapkan, demikian Veyne katakan.

Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 menjadi jelas sebagai suatu peristiwa yang patut dianggap penting dan perlu diwarisi oleh generasi berikutnya. Dari deskripsi di atas dapat dijelaskan bahwa di dalam perspektif  sejarah  tematik, sejarah tentang Resolusi Jihad dapat diangkat sebagai sejarah pewarisan yang mempunyai suatu visi yang dapat membangun suatu generasi melalui semangat menggelorakan massa untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan  1945 dengan cara membangkitkan gairah keagamaannya.

Kusuma Espe [Pemerhati Sejarah, Alumni SMA Negeri 1 Jakarta Angkatan 1985]

tags: , , , , , , ,

Related For Resolusi Jihad 1945 dalam Perspektif Sejarah Tematik [selesai]