Dokter dan Semangat Sumpah Pemuda

Tuesday, 18 October 2016, 08:06:38 | TRANSGLOBAL, TRANSSUMATERA

TRANSINDONESIA.CO – Pemuda dalam tiap masa selalu menjadi “tulang punggung” perubahan. Sejak zaman Budi Oetomo, peran para dokter dalam perubahan di masyarakat Indonesia sangat begitu terasa.

Kita lihat peran dr. Soetomo, dr,Cipto Mangkusoemo dan kawan-kawan (dkk) yang didukung penuh dr.Wahidin merupakan pelopor berdirinya Budi Oetomo yang saat itu masih berstatus sebagai pemuda namun memiliki kemampuan analisis masalah yang baik dan kepedakaan terhadap lingkungan disekitarnya.

Kita semua tahu, bahwa organisasi yang didirikan oleh pemuda Soetomo, dkk, diberi nama Boedi Oetomo merupakan salah satu point penting dalam arah perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Peran pemuda yang berprofesi sebagai dokter, sekali lagi menorehkan tinta emasnya dalam menentukan arah perjuangan bangsa Indonesia dengan turut melahirkan “Sumpah Pemuda” melalui tangan dr.Jleimena yang mewakili pemuda Ambon yang kita kenal dengan “Jong Ambon” dan juga dr.A.K Gani yang mewakili pemuda Sumatera “Jong Sumatera”.

Melalui Sumpah Pemuda, perjuangan Indonesia yang sebelumnya terkotak-kotak mulai menunjukan persatuan dan arah ke pintu gerbang kemerdekaan. Dengan kata lain peran dokter dan pemuda sebagai agen perubahan (agent of change) dan agen pembangunan (agent of development) sudah lama dipraktekkan jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dr Zamir Alvi

Dr Zamir Alvi

Bagaimana dokter sekarang? 

Lain dulu, lain sekarang. Mungkin kalimat ini tepat untuk menggambarkan peran dokter Indonesia dimasa lalu yang mampu menorehkan tinta emas dalam perjalanan bangsa Indonesia, namun bertolak belakang dengan kondisi dokter saat ini.

Dimana profesi dokter saat ini semakin redup dan menjadi anak tiri dinegerinya sendiri. Hal ini bisa dilihat dari beberapa peristiwa atau kasus yang menimpa dokter akhir-akhir ini, seperti tuduhan dokter terlibat peredaran vaksin palsu yang notabene dokter adalah korban dari peredaran vaksin palsu itu sendiri. Termasuk razia-razia terhadap praktek dokter oleh BPOM dan aparat kepolisian yang mengesankan dokter adalah penjahat “kelas kakap” di negeri ini.

Belum lagi tudingan-tudingan kualitas pelayan kesehatan yang buruk sehingga pemerintah melalui Kemenkes dan Dikti memaksakan arogansinya membuka program studi “Spesialis Dokter Layanan Primer” sebagai solusinya, serta tudingan gratifikasi terhadap dokter senilai Rp800 miliar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), maupun upaya pengebirian kewenangan dokter dalam hal kefarmasian/pengelohan obat,

Hal-hal diatas, merupakan sekelumit masalah yang dihadapi dokter-dokter masa kini disamping juga masalah lainnya seperti distribusi dookter yag tidak merata, masalah kesejahteraan dokter yang tidak merata dan tidak berkeadiilan. Walau sebenarnya masih banyak pro dan kontra tentang penghasilan dokter dimasyarakat.

Mengapa Bisa Terjadi?

Sejarah mencatat, bahwa keberadaan dokter memiliki keunikan tersendiri terutama adanya kepercayaan yang dimiliki dokter di tengah masyarakat.

Dimana masyarakat mengenal seorang dokter yang baik memiliki sifat Ketuhanan, Kemurnian Niat, Keluhuran Budi, Kerendahan Hati, Kesungguhan Kerja, Integritas Ilmiah dan Sosial serta Kesejawatan yang tidak diragukan.

Perkembangan ini juga menyentuh kehidupan sosial seorang dokter, tidak terbatas pada masalah terapi penyakit namun juga menyangkut masalah sosial, ekonomi, politik dan sebagainya.

Profesi ini memikul kewajiban memerangi kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik ataupun merusak dalam masyarakat. Profesi kedokteran tidak pernah menyerah pada tekanan-tekanan sosial yang didorong oleh permusuhan atau dendam pribadi, politis atau militer.

Tentu, kondisi dokter yang seperti ini turut andil dalam menjamurnya Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia. Hampir semua Universitas membuat FK baru yang kualitasnya layak diragukan, terutama berkaitan dengan standar layanan dan pendidikan. Hal ini menjadikan jumlah dokter melimpah dengan kualitas yang diragukan.

Satu-satunya alasan adalah uang. Perputaran uang di FK swasta sangat besar, hingga ratusan juta rupiah untuk setiap mahasiswa. Hal ini terjadi karena prestise memiliki gelar ‘dokter’ masih tinggi di masyarakat, sehingga semahal apapun selama masih sanggup membiayai, orang tua akan memilih memasukkan anaknya ke FK.

Akibatnya, jumlah lulusan dokter di Indonesia terbilang cukup tinggi setiap tahunnya, sehingga tanpa kita sadari hukum ekonomipun berlaku yaitu, jika kita memproduksi suatu produk secara berlebihan tanpa memperhitungkan kebutuhan pasar maka harga produk itu akan jatuh.

Hal ini bisa dilihat berapa banyak dokter yang bekerja sebagai honorer di Pemda maupun sebagai dokter jaga di Klinik-Klinik swasta yang penghasilannya lebih rendah dari UMR pegawai pabrik yang sebagian besar lulusan SLTA atau sederajat.

Bukan kesengajaan kalau dokter Indonesia harus lebih hati-hati terhadap tuntutan malpraktek, sehingga untuk suatu diagnosis harus ditegakkan dengan berbagai macam pemeriksaan. Kalau harga obat dan alat kesehatan mahal tentunya bukan keinginan dokter.

Hal ini adalah akibat persaingan bisnis dan ketidak mampuan pemerintah melakukan regulasi farmasi. Kalau tarif rumah sakit mahal…. sekali lagi bukan dokter yang menentukan!

Momentum Sumpah Pemuda

Berkaca pada peristiwa sejarah yang ditorehkan oleh sekelompok pemuda yang berprofesi sebagai dokter dalam menentukan arah perjalanan bangsa, baik itu melalui Boedi Oetomo maupun melalui Sumpah Pemuda, maka sudah sepantasnya kita dokter-dokter Indonesia merenungkan kembali dan berintropeksi diri atas semua masalah yang menimpa profesi dokter yang luhur terutama bagi angkatan muda dokter Indonesia guna bisa meroformasi kembali sistem pendidikan dokter Indonesia dan mereformasi kembali sistem praktek tenaga kesehatan di Indonesia.

Bagaimanapun, dalam mewujudkan pembangunan di Indonesia salah satu pointnya adalah di sektor kesehatan dan para dokter tentu adalah leader dari sistem kesehatan itu. Pada dokter adalah intelektual yang dalam menjalankan profesinya langsung berhadapan atau berada di tengah masyarakat dibekali nilai profesi yang menjadi kompas dalam segala tindakannya.

Nilai profesi itu antara lain adalah kemanusiaan (humanism), etika (ethics) dan kompetensi(competence).

Hal ini yang selalu dilakukan oleh para pendahulu kita, dr.Wahidin, dr.Soetomo, dr.Cipto, dr.J Leimena, dr.A.K Gani, dkk.

Dengan melihat kenyataan yang ada dalam sejarah Republik Indonesia kiprah para dokter Indonesia dalam memperjuangkan dan membangun bangsa, maka sudah saatnyadokter Indonesia bangkit menjadi agent of change (agen perubahan), agent ofdevelopment (agen pembangunan) dan agent of treatment(agen perawatan), tentunya dokter Indonesia tidak menjadi anak tiri atau sekelompok orang yang terpinggirkan.

Dr Zamir Alvi [Koordinator Nasional Lembaga Pemuda Penggerak Keluarga Berencana, Kesehatan dan Kependudukan DPP KNPI-Ketua IDI Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Sumatera Selatan]

tags: , , ,

Related For Dokter dan Semangat Sumpah Pemuda