TransIndonesia
TransIndonesia

Tanpa Malu Berteriak Mempertahankan yang Keliru

Tuesday, 29 December 2015, 13:32:04 | TRANSGLOBAL

TRANSINDONESIA.CO – Berteriak teriak mempertahan yang keliru semestinya malu, tapi apa daya kalau cinta sudah dibuang maka kebencianlah yang datang. Tiada lagi ada rasa menghormati, memahami, atau mengasihi semua dihajarnya diteriakinya dengan tanpa ragu dan tanpa malu-malu.

Bukanya tidak tahu, bukanya tidak mau mengaku, namun hasrat berkonflik, sifat tidak mau tahu inilah yang tidak jarang membawa pada berubahnya sifat dan perilaku. Secara individu bisa saja baik dan sangat humanis, namun tatkala terkena berbagai tekanan, keinginan, keserakahan, iming-iming kekuasaan, kehormatan, pangkat dan jabatan, bisa saja lupa akan siapa dirinya.

Istilah maju tak gentar membela yang mbayar menjadi pokok pemikiran yang akan dijadikan alat atau sarana mempecundangi dirinya atau org lain.

Ilustrasi

Ilustrasi

Berteman sesuai dengan kepentingan, balas dendam adalah bagian dari keniscayaan membakar amarah sudah bagai kewajiban.

Nilai-nilai kemanusiaan sudah diabaikan dikalahkan dengan kepentingan kekuasaan dan penguasaan. Jalan seakan terhalang tiada lagi yang mampu ia pandang.

Berteriak adalah tanda orang lantang? Tanda orang tertekan? Tanda orang yang mulai depresi dan mendekati lupa diri?

Tiada lagi yang bisa ditanya siapa dan mengapa berteriak. Keras bertujuan mengguncang agar orang pada alergi dan menhindari.

Teriakan lantang hanyalah suara orang-orang jalang yang tatkala tidak lagi berhati nurani. Kekuatanya membela yang keliru.

Keberanian hanya untik yang membiayainya. Ke mana nurani pergi ? Sudah tidak ada yang peduli, tak ada lagi yang mau mencari, mungkin sengaja dibiarkanya hingga mati.(CDL-29122015)

Penulis: Chryshnanda Dwilaksana

tags: , ,

Related For Tanpa Malu Berteriak Mempertahankan yang Keliru