Politik dan Poliklinik

Saturday, 17 January 2015, 08:11:24 | TRANSPOLHUKAM
Ilustrasi

Ilustrasi

TRANSINONESIA.CO – Salah satu kelebihan bangsa kita adalah plesetannya, membuat plesetan bukan hal mudah karena mempertentangkan antara yang ideal dengan yang aktual.

Pertentangan ini bukan lawan kata atau sekedar membedakan melainkan menertawakan atas ketololan dengan menyampaikan suatu kritik yang  membuat orang tertawa, mengernyitkan dahi, bahkan bisa juga marah.

Politik dalam tulisan ini diphami sebagai suatu kekuasaan dan penguasaan dibidang legislatif, yudikatif dan eksekutif.

Tujuanya adalah memberikan pelayanan kepada masyaraka, untuk melindungi, melayani dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Bentuk perlindungan, pelayanan dan upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat adalah mewujudkan clean and good gover mance yang tercermin dari kualitas eksekutif, yudikatif dan lefislatifnya.

Kualitas yang ditunjukan adalah kualitas, pemimpin disemua lini, kerja dibidang administrasi dan operasional serta capacity building.

Mengapa politik dan poliklinik  (balai pengobatan) disandingkan? karena bunyi-bunyi akhiran “ik” yang mirip dan awal kata “poli” yang sama bunyinya maka, digothak gathukan/ dihubung-hubungkan.

Antra politik dan poliklinik ada kemiripan kalau dipaksakan untuk tujuan kemanusiaan dalam hidup berbangsa dan bernegara, yaitu sama-sama menjadi wadah untuk menyehatkan.

Tatkala kita sepakat untuk menyehatkan maka segala unsur yang terkait mencerminkan upaya-upaya ysng berguna untuk menyehatkan.

Tatkala kita berobat di poliklinik, tidak dilayani dengan baik, tidak ada dari atau perawat yang peduli, tempatnya kumuh dan obat-obatanya pun terbatas, saat bertanya atau konsultasi tidak dijawab hanya dilempar sana-dilempar sini apa yang dirasakan?

Tentu kecewa, ingin marah dan setidaknya nggrundel. Tatkala melihat permainan politik “uncal-uncalan/pingppong bola panas”, tidak menunjukan kualitas cerdas dan berlindung di balik pasal dan ayat-ayat hukum, saling mengklaim benar dan pembenaran, rakyat disuguhi tontonan panggung politik yang menggemaskan atau membuat geram.

Apa yang dirasakan rakyatnya? Ada kesamaan juga yaitu kecewa, ingin marah. Marah adalah sesuatu yang tidak sehat dan bisa menyulut penyakit lain.

Tatkala politik maupun poliklinik sama-sama menghianati tujuan menyehatkan maka, ini sama saja menambah beban dan menjadi pemicu munculnya atau makna parah sakitnya.

Kita semua sadar dan menyadari bahwa kita ini masih tergolong sebagai bngsa yang sakit. Banyak hal yang membuat kecewa dan mendorong kemarahan.

Yang anehnya, mereka sebagai aktornya tenang dan tidak merasa bersalah. Para elitnya saling intip dan saling ingin mencari kesempatan dalam kesempitan. Saling tikam dan saling membalas dendam.

Bangga kalau bisa menjatuhkan dan bahagia dengan memamerkan ketololan-ketoloannya.

Dari unsur-unsur politik maupun poliklinik, semestinya sama-sama berupaya menyehatkan yang dimulai dari: 1. Kebijakanya, 2. Kepemimpinanya, 3. Pembangunaan sumber dayanya, 4. Pembangunan infrastrukturnya, 5. Pelayanan-pelayanannya, 6. Hasil atau produk kinerja yang berkualitas, 7. Program-program unggulanya.

Menyehatkaan bukanlah hanya fisik saja, sehat secara psikis, secara rohani ini juga penting karena jiwa yang sehat adalah tanda kewarasan dan sumber kekuatan untuk menyehatkan.(CDL-160115)

Penulis: Chryshnanda Dwilaksana

tags:

Related For Politik dan Poliklinik