Dalang Pasti Menang, Wayang Pasti Remuk

Tuesday, 27 January 2015, 11:08:37 | TRANSPOLHUKAM
Ilustrasi

Ilustrasi

TRANSINDONESIA.CO – Namanya wayang tentu saja manut akan dalang. Apapun yang dialami wayang adalah, produk diri gerakan-gerakan yang dilakukan sang dalang.

Wayang bisa saja dilempar, dijungkir balikkan, dihajar, disabet tetap saja manut apa yang diperbuat dalang.

Adakah wayang yang menang? Yg menang tetap dalang karena suara, gerakan dan skenario yang membuatnya adalah dalang.

Wayang tidak diberi hak mengkritik, apalagi menyalahkan dalang. Kaena Wwayang tidak mempunyai roh dan jiwa, ia hanya punya raga.

Dalang begitu sangat luar biasa, memiliki hak preogratis pemegang kendali wayang. Sehebat-hebatnya wayang, tak bisa berbuat apa-apa tanpa dalang.

Dalam setiap konflik atau berbagai perseteruan, dalang-lah yang untung, setidaknya tujuan atau keinginannya tercapai dan dapat memenuhi kepentingan maupun keinginanya.

Yang berkonflik tetap saja remuk dan kalah, kemenangan tetap pada dalang. Yang berkonflik memang tidak peka dan terlalu mudah diadu, dibenturkan dan hantam-hantamkan.

Memancing situasi keruh, mengobok-obok hati banyak orang guna membangun solidaritas sosial adalah kelihaian sang dalang.

Dalang memang tidak mau tampil, namun ia selalu menuai hasil panenan atas konflik atas wayang-wayang yang dia mainkan.

Halnya, Mmedia yang senang akan jualanya laris manis, tak sulit-sulit mencari head line dan semua sudah tersedia.

Kemampuan mengemas dan mengulang-ulang konflik menjadikan issue sosial dan masalah sosial menjadi produk dari sang dalang.

Tentu saja bukan sembarang dalang bila konflik yang dia mainkan semakin besar mempengaruhi siatuasi. Walau ia belum jadi hantu namun, ia sudah tidak bisa dilihat apa lagi diraba.

Begitu juga misi dibalik semua lakon dalang hanya terlihat samar dan nyaris tak terdengar. Gerakan-gerakan membangun issue dan mengcounter issue bagai peluru yang saling ditembakan dari masing-masing kubu yang berseteru.

Media menyiapkan lahan untuk masing-masing kubu, baik yang memihak, yang netral dan hampir semua bersuka cita bagai mencari ikan dikolam yang air dengan ikanya banyak ikannya.

Euforia media tak jarang pula turut memperkeruh suasana, tarik ulur membngun opini publik dan menebar issue-issue.

Bahkan, hukum-pun bisa berselingkuh dengan media untuk membangun opini dan terus menebar label-label hingga solidaritas kebencian terus mengembang.

Semakin keruh, semakin banyak pula issue dan label saling mengadu domba yang membuat suasana semakin keruh dan tidak jelas.

Kelompok civil society juga menabur euforia untuk mendapatkan panggung dalam mencari kesempatan tampil, menunjukan aku dan jati dirinya dengan mengaku-aku sebagai pahlawan yang bangun kesiangan.

Berteriak bergerombol-gerombol mengtasnamakan kesucian, ketulusan, kejujuran, dan hati nurani, entah punya siapa (ada yang mengatakan tidak nampak dengan jelas).

Agar nampak heroik sambil berteriak-teriak dengan wajah emosi, melankolis, bahkan mencoba mengeluarkan sejumlah air dari matanya. Anehnya lagi, yang dicaci dan dihujat sepertinya juga pura-pura tidak melihat dan tidak mendengar (micek mbudeg) sambil njeplak “EGP” (emang gue pikirin).

Bisa dibayangkan betapa bahagianya yang berseteru, saling hujat dan saling serang tanpa memikirkn adanya korban atau kerugian-kerugian dari dampak perseteruan.

Pihak yang berkonflik bagai wayang yang remuk, sedangkan para dalang berbahagia menangguk untung (nek ra entuk jenang lumayan entuk jeneng: kalau tidak mendapatkan materi atau sesuatu, setidaknya bisa dapat nama).

Bagi mereka yang waras tentu merasa sedih, namun bagi yang gila akan berbahagia menikmatinya.

Akan semakin keruh jika dalangnya banyak, issuenyapun semakin beragam dari SARA, kemiskinan, korupsi, kriminalisasi, ketidak adilan, sampai menjual aset dan harga diri bangsa bisa dilakukan.

Dalang juga berperan penjual anti virus walau dia juga pembuat virusnya. Kasihan sebagai wayang, sudah diremuk redamkan, diinjak-injak pula terus dimasukan kotak. Sang dalang berlalu melenggang dengan senyum memetik keuntungan sebagai tanda kemenangan.(CDL-260115)

Penulis: Chryshnanda Dwilaksana

tags: ,

Related For Dalang Pasti Menang, Wayang Pasti Remuk