Revolusi Mental pada Lembaga Pendidikan

Tuesday, 23 December 2014, 11:13:28 | TRANSPOLHUKAM
Patroli Polisi Tempoe Doeloe.(ist)

Patroli Polisi Tempoe Doeloe.(ist)

TRANSINDONESIA.CO – Hasil pendidikan dari berbagai perguruan atau institute atau pendidikan dari lemabga lainnya banyak yang di label sebagai sarjana kertas, karena tak mampu bekerja, belajar mencari nilai dan rangking tanpa ada transformasi.

Pendidikan merupakan proses belajar dan berlatih untuk dapat hidup atau mempertahankan hidup, untuk tumbuh dan berkembang.

Dari konteks tersebut dapat dipahami bahwa, mengikuti pendidikan bertujuan memperoleh kompetensi cara berfikir, bertindak, menemukan sesuatu yang baru, memperbaiki, meningkatkan kualitas, dan cara membangun.

Yang berarti, mampu menunjukan jalannya, menjalankannya bahkan mampu memberi solusi bila ada kendala.

Tujuan pendidikan adalah untuk memudahkan dalam kehidupan, meningkatkan kualitas hidup, dan mampu mengatasi berbagai tantangan dalam kehidupan dengan tujuan hidup menjadi lebih nyaman, aman dan lebih indah.

Pendidikan mengajarkan cara berfikir yang sistematis, praktis, efektif, efisien dan mampu menemukan akar masalah serta menemukan solusi tepat.

Dengan demikian dalam pendidikan diperlukan adanya cara-cara atau metode yang dikembangkan dalam ilmu pengetahuan.

Dalam proses belajar yang perlu diajarkan adalah pengenalan sebagai tahap mengetahui, memahami, mampu memanfaatkan dan mampu mengembangkan. Sehingga bukan menghafalkan, bukan mengejar nilai, bukan hanya mengisi jawaban-jawaban pilihan berganda atau jawaban-jawaban pilihan benar-salah. Melainkan memahami, menemukan akar masalah dan solusinya.

Kita lihat bagaimana di negara maju mengajarkan proses belajar dengan mengkonstruksi atau menghubung-hubungkan dan menemukan sesuatu yang baru. Contoh saja film ‘blues clues’ (tanda biru dari anjing kecil) yang digunakan sebagai acuan menghubung-hubungkan.

Cara berpikir yang konstruktif ini sebenarnya melatih untuk menemukan sesuatu yang baru bukan menghafal. Is blue memberi tanda pada sesuatu sebut saja kolam. Tanda yang disebut tadi dicatat, selanjutnya tanda yang diberikan adalah warna hijau, tanda ini juga dicatat , dan diajarkan cari lagi tanda yang lain. Tanda selanjutnya adalah lompat-lompat. Tanda inipun di catatnya.

Ada 3 tanda yang sudah dicatat dalam buku catatan: kolam, hijau, lompat-lompat. Kemudian diajak untuk menhubung-hubungkan di kursi berfikir (bahan kontemplasi). Dalam menghubung-hubungkan dibuat pertanyaan apa yang ada dikolam, warnanya hijau dan dapat melompat lompat.

Disinilah ditemukan/ dapat disimpulkan kodok, i ni contoh konstruksi berpikir anak play group, yang tentu akan terus meningkat sampai mampu berpikir konseptual dan teoritikal.

Disinilah sebenarnya kreatifitas dan inovasi dalam membangun kompetensi untuk menemukan akar masalah dan solusi yang tepat. Belajar merupakan seni dalam proses untuk :
1. Mampu menggolong-golongkan
2. Mampu berpikir holistik/sistemik
3. Mampu berpikir model
4. Mampu memahami makna di balik gejala/fakta
5. Mampu berpikir secara konsep tual dan teoritikal
6. Mampu melihat dari berbagai pendekatan

Teori, studi kasus dan problem solvingnya penerapan teori untuk menyelesaikan masalah itu mestinya yang diajarkan. Kalau mau hebat lagi, buat creative break through. Dengan demikian belajar bukan untuk mengejar nilai/ranking atau mengkoleksi gelar melainkan untuk mampu hidup, tumbuh dan berkembang dan menjadikan, lebih mudah nyaman, dan lebih indah.

Oleh sebab itu hasil dari pendidikan adalah untuk mendapatkan kompetensi, mampu memberdayakan sumber daya dan memiliki cita rasa seni.(CDL-201214)

Penulis: Chryshnanda Dwilaksana

tags:

Related For Revolusi Mental pada Lembaga Pendidikan