Revolusi Mental: Kesadaran, Ikut-ikutan atau Ketakutan? (1)

Thursday, 18 December 2014, 12:55:27 | TRANSPOLHUKAM

e-policing-online

TRANSINDONESIA.CO – Di era kepemimpinan Presiden Ir Joko Widodo menjadi pusat gelora revolusi mental untuk melakukan perubahan mind set and culture set bagi anak bangsa ini untuk menjadikan indonesia sebagai bangsa yang besar, bangsa yang hebat dan tentu saja bangsa yang makmur adil sejahtera rakyatnya.

Kita semua sadar bahwa manusia itu sang pembelajar untuk menuju sebagai bangsa yang negaranya hebat, kuat, adil makmur dan sejahtera, diperlukan tekad yang kuat untuk belajar.

Merevolusi mental pun merupakan proses belajar yang tidak hanya berteriak teriak ‘ubyang ubyung’ ke sana ke mari terus terwujud.

Revolusi mental bukan karena diperintah, bukan karena diancam, bukan untuk menjilat pimpinan, bukan demi mendapatkan jabataan dan tentu bukan karena ketakutan melainkan sebagai bentuk kesadaran. Kesadaran ini akar dari kemauan dengan tulus untuk belajar.

Tatkala kita menyatakan revolusi mental adalah proses belajar berarti ini adalah kesadaran, tanggungjawab yang harus dilaksanakan sepenuh hati dan deng disiplin tinggi.

Yang berarti mau dan mampu untuk melakukan perubahan, rela melepaskan kenikmatan dan keuntungan-keuntungan bagi kelompok maupun pribadinya demi kemajuan dan memajukan bangsa.

Pertanyaanya apa yang dipelajari dari revolusi mental? Dan proses apa yang hrs dilakukan? bagaimana memonitor dan menilai kalau yang dilakukan adalah kesadaran tanggungjawab dan disiplin?

Pembelajaran dari revolusi mental adalah:

  1. Mau mengakui kesalahan dan kekurangan yang dengan tegas dinyatakan dan siap untuk memperbaiki.
  2. Memahami apa yang menjadi keinginan, kebutuhan suatu bangsa untuk menjadi hebat dan sejahtera rakyatnya,
  3. Melaksanakan dengan tulus dan dengan pengorbanan-pengorbanan yang besar bagi masa depan yang lebih baik.

Ke 3 hal itu harus dijabarkan sesuai bidang masing-masing, mengakui kesalahan dan mau memperbaiki merupakan suatu bentuk niat yang tulus.

Ini sangat fundamental bagi dimulainya revolusi mental, tanpa pengakuan kesalahan maka revolusi mental hanya omdo (omong doang), bentuk penjilatan kepada pimpinan, dan tidak tulus maka akan penuh kepura puraan dan pamrih.

Mau memahami apa yang dibutuhkan dan diinginkan rakyat untuk dapat hidup sejahtera ini merupakan perjuangan dan kerja kers yang memerlukan: pembangunan infrstuktur, pendidikan, penerapan sistem-sitem yang modern dan penegakkan hukum yang adil seadil-adilnya dan tegak setegak tegaknya.

Menyiapkan masa depan yang lebih baik ini bentuk kemampuan melihat masa depan yang lebih baik dan apa yang dikerjakan saat ini adalah demi anak cucu atau generasi yang akan datang yang siap untuk menghadapi tantangan, tuntutan, ancaman, harapan dan kebutuhan di masa yang akan datang. (CDL-181214)

Penulis: Chryshnanda Dwilaksana

tags: ,

Related For Revolusi Mental: Kesadaran, Ikut-ikutan atau Ketakutan? (1)