Bukti Konvnsional dan Bukti Elektronik

Tuesday, 14 October 2014, 08:12:26 | TRANSPOLHUKAM
Ilustrasi

Ilustrasi

TRANSINDONESIA.CO – Tugas Polisi dalam penyidikan adalah membuat suatu perkra menjadi terang dan jelas dengan membuktikan siapa pelaku atau tersangka, korban, saksi, modus operandi,kerugian dan sebagainya.

Proses pembuktian yang dilakukan dalam penyidikan di era digital tidak hanya bukti-bukti manual saja, tetapi juga diperlukan bukti-bukti elektronik.

Dalam tindak pidana yang menggunakan sistem teknologi dan dilakukan orang-orang profesional, bukti-bukti konvensional tidak mampu mengcover dan  dengan mudah dipatahkan.

Kejahatan-kejahatan yang tergoong extraordinary, lintas negara,teerorisme, cyber menggunakan teknologi yang berbasis pada ilmu pengetahuan.

Dengan demikian, proses penyidikannya juga harus berbasis pada ilmu pengetahuan (scientific investigtion).

Bukti-bukti konvensiona bukan berarti tidak penting atau salah, melainkan harus didukung dengan bukti-bukti eektronik.

Bukti konvensional lebih difokuskan pada barang atau benda, pengakuaan atau keterangan saksi maupun tersangka.

Bukti elektronik berupa rekaman gambar, rekaman suara, foto, bukti-bukti komunikasi, bukti kecepatann, bukti transksi, bukti yang dtunjukan dari sidik jari, telapak kaki, sistem-sistem jejaring yang digunakan dan sebagainya.

Pembuktian suatu tindak pidana dilakukan seperti melakukan penelitian dengan berpikir holistik sistemik.

Dengan membuat pertanyaan-pertanyaan  seperti, 1. Apa yang terjadi, 2. Dimana kejadanya, 3. Apa yang menjadi penyebabnya, 4.Kapan dilakukan, 5.Menggunakan apa, 6.Siapa yang melakukan, 7. Siapa yang menjadi korban, dan lainnya.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut Polisi dituntut untuk membuktinya.

Suatu tindak pidana tidak berdiri sendiri, bisa berkaitan dengan tindak pidana lainya atau berkaitan dengan peristiwa  lainya.

Sebagai contoh, tindak pidana terorisme bisa berkaitan dengan penyeundupan, penganggaran, imigrasi, penyalahgunaan bahan peledak, penghasutan atau provokasi, dan lainnya.

Tindak pidana korupsi, bisa berkaitan dengan pencucian uang, pemalsuan dokumen, penyalah gunaan wewenang dan sebagainya.

Tindak pidana pembunuhan, bisa berkaitan dengan pencurian, penganiayaan, pengrusakan.

Tndak pidana yang beraitan dengan kejahatan terorganisir, kejahatan lintas negara  dan lainnya akan semakin kompleks kaitannya dengan peristiwa-peristiwa lainnya pula.

Dengan demikian dapat dipahami, bahwa suatu tindak pidana tidak dengan tiba-tiba terjadi, mungkin bisa dikataan sebagai puncak gunung es saja yang dibawahnya merupakan potensi-potensi yang mungkin bisa terjadi secara berulang atau  lebih kompeks lagi.

Sejalan dengan pemikiran diatas,  maka tugas penydik atau produk dari penyidikaan, dalam membuktikan suatu tindak pidana tidak hanya untuk proses peradilan saja, melainkan juga untuk: 1. Pencegahan agar tidak beruang, 2. Perbaikaan sistem, pola yang menjadi potensi terjadinya suatu  tindak  pidana, 3. Peningkatan kualitas pengamanan, kualitas pelayanan kepada pubik, kualitas ketahanan atau peran serta pemangku kepentingan lainya untuk peka dan peduli, 4. Pembaangunan baik karakter masyarakat,  pembangunan infra struktur dan sistem-sistem lainya untuk meningkatkan kualitas keamanan dan rasa aman warga masyarakat.

Dengan bukti-bukti elektronik akan semakin kuat kerja penyidik, jaksa maupun hakim dalam proses peradilanya.

Diera digital, sistem peradilan memang harus dibangun sistem-sistem elektronik baik untuk mencegah, dalam membuktikan sampai dengan pasca peradilanya sehingga manfaat proses penegakan hukum membawa mannfaat bagi pencegahan dan peningkatan kualitas keamanan dan rasa aman warga masyarakat.(CDL-PC71MGL121014).

Penulis: Chryshnanda Dwilaksana

tags:

Related For Bukti Konvnsional dan Bukti Elektronik