TDL Naik, Industri Terancam Gulung

Wednesday, 23 April 2014, 22:30:52 | TRANSBISNIS

industri terancam gulungKenaikan TDL ancam industri gulung tikar.(dok)

 

 

TRANSINDONESIA.CO – Idealnya, pemerintah menerbitkan atau memberlakukan kebijakan yang tidak memberatkan masyarakat. Namun, pada Mei 2014, pemerintah bersiap untuk kembali menaikan tarif dasar listrik (TDL)  cukup signifikan, 38,9 persen. Kenaikan sebesar 38,9 persen itu berlaku bagi industri golongan I3 yang sudah go public dan 64,7 persen bagi I4.

Rencana itu menimbulkan reaksi para pelaku dunia usaha. Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Barat Deddy Widjaya berpendapat, efek kenaikan TDL tersebut dapat melemahkan daya saing industri nasional.

“Itu karena kelompok industri golong I-3 dan I-4 mayoritas berada pada sektor hulu. Karenanya, kammi sangat berkeberatan jika pemerintah menaikkan TDL,” ujar Deddy di Bandung, Jawa Barat, Rabu (23/4/2014).

Menurutnya, apabila industri skala besar mengalami kenaikan TDL, imbasnya tidak hanya dirasakan seluruh industri lainnya, tetapi juga konsumen. Pasalnya, jelas dia, kenaikan itu menyebabkan naiknya biaya operasional. Untuk menutupi biaya operasional, sambung Deddy, industri menaikkan harga jual.

“Kondisi itu membuat daya beli masyarakat melemah. Jika daya beli masyarakat melemah, tentunya, produk-produk industri lokal tidak laku. Industri tidak dapat survive. Akibatnya, dapat berpotensi membuat industri gulung tikar,” papar Deddy.

Ketua DPP Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat, memperkuat pernyataan Deddy. Pria berkaca mata ini mengatakan, kenaikan TDL golong I-3 dan I-4 sangat memberatkan karena industri pada golongan-golongan itu merupakan sektor hulu. “Efeknya dapat dirasakan industri pada sektor hilir,” tukasnya.

Dia menilai keputusan pemerintah kontra produktif dengan keinginannya. Dijelaskan, pemerintah senantiasa dan terus meminta industri nasional meningkatkan daya saing. Sisi lain, tambah Ade, pemerintah justru menerbitkan putusan menaikkan biaya operasional, yang satu komponennya adalah TDL. Hal tersebut, ucap Ade, menjadi sebuah hantaman telak bagi dunia industri. Kenaikan tinggi itu mengakibatkan cash flow perusahaan terkuras sehingga sangat berpotensi kian melemahkan daya saing.

Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jabar, Herman Muchtar, juga berpendapat bahwa rencana kenaikan TDL dapat berefek negatif pada dunia perhotelan. Itu karena, jelas dia, saat ini saja, industri perhotelan di Jabar terpukul persaingan yang semakin sengit.

“Kondisinya kian berat dan terpuruk jika TDL naik,” sebut Herman.

Herman berharap, pemerintah menangguhkan rencana kenaikan TDL. Terlebih, ucapnya, dampak TDL dapat berimplikasi pada berbagai hal, seperti kenaikan beragam komoditas, termasuk bahan baku makanan untuk hotel dan restoran.

Ekonom Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, berkomentar, kenaikan TDL tersebut dapat memicu inflasi 0,5-0,6 persen. Kenaikan inflasi itu, imbuh Acu, sapaan akrabnya, tergolong tinggi. “Beban masyarakat makin berat. Bahkan, inflasi dapat semakin tinggi karena sekitar satu bulan pasca kenaikan TDL itu, memasuki Ramadan ditambah tahun ajaran baru. “Saat Ramadan dan tahun ajaran baru, harga berbagai komoditi kemungkinan besar kembali naik. Beban masyarakat semakin berat,” sahutnya.

Acu mengatakan, putusan pemerintah menaikkan TDL pada 1 Mei 2014 merupakan langkah yang tidak elok. Itu karena, terangnya, perekonomian nasional belum stabil. Melihat hal itu, saran Acu, sebaiknya, pemerintah menunda rencana kenaikan TDL.

“Tunda dulu, setidaknya, hingga ajang Pemilihan Presiden tuntas. Tapi, ada syaratnya, kondisi ekonomi mulai stabil dan ada analasisi berkenaan dengan dampak kenaikan TDL pada seluruh sektor,” urai Acu.(jt/din)

tags: ,

Related For TDL Naik, Industri Terancam Gulung